Senin, 21 November 2011

Perang Salib


PERANG SALIB


            Perang salaib ( the crusades war ) adalah serangkaian perang agama selama hampir dua abad sebagai reaksi Kristen Eropa terhadab islam asia. Perang ini terjadi karena sejumlah kota dan tempat suci Kristen diduduki islam sejak 632. Militer Kristen menggunakan salib sebagai symbol yang menunjukkan bahwa perang ini suci dan berjuta membebaskan kota suci Baitul Maqdis (Yerusslem) dari orang islam.
            Perang salib awalnya disebabkan adanya persaingan pengaruh antara islam dan Kristen. Penguasa islam Alp Arselan yang memimpin gerakan ekspensi yang kemudian dikenal dengan “Peristiwa Manzikart” pada tahun 464 H ( 1071 ) mwnjadikan orang – orang Romawi terdesak. Tentara Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara romawi yang berjumlah 200.000. Peristiwa besar ini menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadab umat islam, yang kemudian mencetuskan Perang salib.
            Pidato yang mungkin paling besar hasilnya dalam sejarah ialah pidato Pous Urbanus II pada tanggal 26 November 1095 di Clemont ( prancis selatan ), orang-orang Kristen mendapat suntikan untuk mengunjungi kuburan-kuburan suci dan merebutnya dari orang-orang bukan Kristen serta menaklukan mereka. Seruan bersama “Tuhan menghendaki yang sedemikian” menggelora di seluruh negeri dan memiliki pengaruh psikologis, baik di lapisan masyarakat bawah maupun atas. Di musim semi tahun berikutnya, 150.000 orang yang terdiri dari sebagian besar orang-orang prancis dan berkumpul di konstaninopel. Perang salib pertama pun dimulai.
            Perang salib berlangsung 200 tahun lamanya, dari mulai 1095-1293, dengan 8 kali penyerbuan. Perang tersebut bertujuan untuk merebut kota suci palestin, tempat “tapak Tuhan berbijak”, dari tamgan kaum muslim.

B. SEBAB-SEBAB PERANG SALIB  

Adapun yang menjadi factor utama yamg menyebabkan terjadinya perang salib ada tiga hal yaitu
  1. Faktor agama.
 Sejak dinasti saljuk merebut Baitul Maqdis dari tangan dinasti fatimiyah pada tahun 1070 M, pihak kriSten merasa tidak bebas lagi menunaikan ibadah kesana karena penguasa saljuk menetabkan sejumlah peraturan yang dianggab mempersulit mereksa yang hendak melaksanakan ibadah ke Baitul Maqdis.
  1. Faktor politik.
Kekalahan Bizantium sejak 330 disebut Konstantinopel ( Istambul ) di Manzikart, wilayah Arnemia, pada 1071 dan jatuhnya Asia kecil kebawah kekuasaan Saljuk telah mendorong Kaisan Alexius I Comnenus ( kaisar konstantinopel) untuk meminta bantuan kepada Paus Urbanus II ( 1035-1099 )
Yang menjadi Paus antara tahun 1088-1099 M, dalam usahanya untuk mengembalikan kekuasaanya di daerah penduduk Dinasti Saljuk Paus Urba II bersedia membantu Bizantium karena adanya janji Kaisar Alexius untuk tunduk di bawah kekuasaan Paus Roma dan harapan untuk dapat mempersembahkan gereja Yunani dan Roma.
      Di lain pihak, kondisi kekuasaan Islam pada waktu itu sedang melemah sehingga orang Kristen di Eropa berani untuk untuk mengambil bagian dalam perang salib.
  1. Faktor Sosial Ekonomi.
Para pedagang besar yang berada di pantai Timur Laut Tengah, berambisi untuk menguasai sejumlah kota dagang di sepanjang pantai timur dan selatan Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka. Untuk itu mereka rela menanggung sebagian dana Perang salib dengan maksud menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat perdagangan di timur melalui jalur strtegis tersebut.
            Di samping itu, stratifikasi social masyarakat Eropa ketika itu terdiri 3 kelompok, yaitu kaum gereja, kaum bangsawan serta kesatria, dan rakyat jelata. Mayoritas dalam masyarakat kelompok yang terahir, oleh karena itu, ketika mereka dikobilisasi oleh pihak-pahak gereja untuk turut mengambil bagian dalam Perang Salib dengan janji akan diberikan kabebasan dan kesejahteraan yang lebih baik apabila perang dapat dimenangkan, mereka menyambut seruan itu secara spontan dengan melibatkan diri dalam perang tersebut.

C. PERIODISASI PERANG SALIB   

            Menurut Philip K. Hitti, dalam the Arabs A Short Hislory, pembagian Perang Salib yang lebih tepat adalah sebagai berikut
1 Periode penaklukan ( 1096-1144 )
2 periode reaksi umat islam ( 1144-1192 )
3 periode perang saudara kecal-kecilan atau periode kehancuran.

1.      Periode Pertama.
Jalinan kerja sama antara kaisar Alexius I dan Urbanus II berhasil membangkitkan semangat umat Kristen, terutama akibat pidato Paus Urbanus II pada Clermont ( 26 November 1095 ).[9]

Hasan Ibrahim Hasan dalam Tarikh Al-islam, menggambarkan gerakan ini sebagai gerombolan rakyat jelita yang tidak memiliki pengalaman berperang, tidak disiplin, dan tanpa memiliki persiapan.Gerakan ini dipimpin oleh Piere I’Ermite.Skhirnya perang salib dapat dikalahkan pasukan Dinasti Saljuk.
            Pasukan salib angkatan berikutnya dipimpin oleh Godfry of Boulion. Gerakan ini lebih merupakan ekspedisi militer yang terorganisasi rapi.
            Pada musim semi tahun 1095 M, 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Prancis dan Norman berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestin. Tentara salib yang dipinpin oleh Godfry, Bohemond, dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 juni 1097 mereka berhasil menaklukkan Nicea, dan tahun 1098 menguasai Edessa. Mereka juga berhasil menduduki Baitul Maqdis atau Yerussalem ( 15 juli 1099 ) dan mendirikan kerajaan Latin III dengan Godfrey sebagai rajanya.
           





Pada tahun 1127 M, muncul Imaduddin Zanki seorang pahlawan Islam yermasyhur dari monsul, yang dapat mendalahkan tentara Salib da kota Aleppo Hamimah, dan Edessa. Kemenangan itu merupakan kemenangan pertamakalinya yang disusul dengan kemenangan selanjutnya sehingga tentara Salib merasakan pahitnya kekalahan demi kekalahan. Pada tahun 1046 M, Imaduddin Zanki wafat.[10]

2.      Periode kedua
Wafatnya Imaduddin Zanki, membangkitkan anaknya, Nuruddin Zanki untuk melanjutkan tugas sang ayah, meneruskan perjuangngan membela agama, melakukan jihad. Nuruddin Zanki berhasil merebut kembali Antiochea pada tahun 1149 M, dan pada tahun 1151 M seluruh Edessa dapat direbut kembali.
   Jatuhnya Edessa ini menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan perang salib dua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci yang disambut positif oleh Raja Perancis Louis 7 dan Raja Jerman Codras II. Namun dihadang oleh   Nuruddin dan mereka tidak berhasil memasuki Damaskus. Nuruddin wafat pada tahun 1174 M. Pimpinan perang kemudian dipegang oleh Shalahuddin Al-Ayyubi [11] yang mendirikan Dinasti Ayyubiyah di Mesir pada tahun 1175 M. Hasil peperangan Shalahuddin yang terbesar adalah merebut kembali Yerussalem pada 2 Oktober 1187 M.
   Mereka menyususn rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa raja Jerman Richrd The Lion Hart raja Inggris dan Philip Augistus raja Prancis. Mereka dapat merebut Akka akan tetapi tidak berhasil merebut Palestin. Pada tanggal 2 November 1192 M, di buet perjanjian antara tentara salib dengan shalahuddin yang di sebut dengan Shlh Ar-Rahmah. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa orang-orang Kristen yang pergi berziarah ke Baitul Maqdis tidak akan diganggu .
   Tidak lama kemudian pahlawan perang salib itu meninggal dunia pada Februri 1193 M.

3.      Periode Ketiga  
Tentara salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Kali ini mereka berusaha merebut Mesir terlebih dahulu sebelum ke Palestin dengan harapan mendapat bantuan dari orang-orang Kristen Qibti.
            Dalam periode ini telah terukir dalam sejarah munculnya pahlawan wanita Islam yang terkenal gagah berani, yaitu Syajar Addur. Ia berhasil menghancurkan raja Lauis 9 dari Prancis dan sekaligus menangkab raja tersebut. Bukan hanya itu ,sejarah mnencatat bahwa pahlawan wanita gagah perkasa ini telah mamapu menunjukkan sikab kebesaran Islam dengan membebaskan dan mengizinkan Raja Louis 9 kembali ke negri Pracis.[12]  
            Demikian perang salib yang terjadi di timur . Perang ini tidak hanya berhentui di Barat, di Spayol sampai umat islam terusir dari Spayol Eropa. Akan tetapi meskipun demikian, mereka tidak dapat merebut apapun dari tangan kaum muslimim, dan tidak dapat menurunkan bendera Islam dari Palestina.


D. JALANNYA PERANG SALIB
Perang Salib yang berlangsung dalam kurun waktu hamper dua abad, yakni antara 1095-1291 M, terjadi dengan serangkaian peperangan.[13]
            Pada tahun 490 H/ 1096 M, pasukan salib yang dipimpin oleh komamdan Walter dapat ditundukkan oleh kekuatan Kristen Bulgia. Kemudian Peter yang mengomando kelompok kedua pasukan salib bergerak melalui Hongolia dan Bulgaria. Pasukan ini berhasil menghancurkan setiab kekuatan yang menghalanginya. Seorang penguasa negri Nicea berhasil menghadapinya bahkan sebagian pemimpin salib berkenan memeluk Islam dan sebagian pasukan mereka terbunuh dalam peperangan ini.[14]
            Setahun kemudian pada tanggal 491 H/ 1097 M, pasukan Kristen di bawah komando Goldfrey bergerak dari konstantinopel dan berhasil menaklukkan Antioch setelah mengepungnya selama 9 bulan.
            Setelah berhasil menundukkan Antioch pasukan salib bergerak ke Ma’arrat An-Nu’man, sebuah kota termegah di Syria. Pasukan salib selanjubnya menuju Yerussalem dan dapat menaklukannya danagn mudah.
            Selama terjadi peperangan tersebut, terjadi perselisihan antara sultan saljuk hal ini memudahkan pasukan salib merebut wilayah islam. Dalam kondisi seperti ini datanglah Muhammad yang berusaha mengabaikan komflik internal dan menggalang kesatuan dan kekuatan Saljuk untuk mengusir pasukan salib dan Baldwin penguasa yerussalem penganti  Goldfrey dapat di kalahkan
.           Sepeninggal Sultan Mahmud, Tampil seorang perwira muslim yang cakap dan gagah pemberani. Ia adalah Imaduddin Zanki, seorang anak dari pejabat tinggi siltan Malik Syah. Satu persatu Zanki meraih kemenangan atas pasukan salib, hingga ia merebut wilayah Eddesa pada tahun 539 H 1144 M.
            Penaklukan Eddesa merupakan keberhasilan Zanki yang terhebat, dalam penaklukan Eddesa Zanki tidak berlaku kejam terhadap penduduknya sebagaimana tindakan pasukan salib. Dalam perjalanan penaklukan Kalat Jabir, Zanki terbunuh oleh tentaranya sendiri. [15]
            Kepemimpinan Imaduddin Zanki digantikan oleh putranya yang bernama Nuruddin Mahmud. Ia segera memainkan peran baru sebagai penakluk. Keberhasilan Nuruddin menaklukkan koto Damaskus membuat sang KHalifah berkenan memberi gelar kehormatan Al-Malik Al-Adil.
            Shalahuddin, putra Najamuddin Ayyub, lahir pada tahun 1167 M. Ayahnya adalah pejabat kepercayaan pada masa Imanuddin Zanki , dan masa Nuruddin.
             Shalahuddin memusatkan perhatiannya untuk menyerang Yerussalem, da mana ribuan rakyat muslim dibantai oleh pasukan salib Kristen. Setelah beberap[a lama terjadi pengepungan, pasukan salib kehilangan semangat tempur dan memohon kemurahan hati sang sultan. Jiwa sang sultan terlalu lembut dan penyayang untuk melaksanakan dandamnya, sehingga Sultan pun memaafkan mereka.




Jatuhnya Yerussalem dalam kekuasaan Shalahuddin menimbulkan keprihatinan besar kalangan tokoh-tokoh Kristen. Sehingga Kaisar Jerman yang bernama Frendick Barbarosa, Philip August, kaisar Pracis yang bernama Richrd, beberapa pembesar Inggris, membentuk gabungan pasukan Salib.
Pada tanggal 14 Sebtember 1189 M. Shalahuddin terdesak oleh pasukan salib namun keponakannya bernama Taqiyuddin berhasil mengusir pasukan salib dari posisinya dan mengembalikan hubungan dengan Acre. Kota Acre kembali terkepung selama hamper dua tahun. Sekalipun umat muslim menghadapi situasi yang serba sulit selama pengepungan ini, namun mereka tidak patah semangat. Sultan  Shalahuddin merasa kepayahan menghadapi perang ini, selama itu pasukan muslim dilanda wadah penyakit dan kelaparan.
Setelah berhasil menundukkan Acre, pasukan salib bergerak menuju Ascolan dipampin Jenderal Richrd. Bersama dengan itu Shalahuddin sedang mengarahkan pasukannya dan tiba di Ascolon lebih awal. Ketika tiba di Ascolon, Richrd menapat kota ini telah di kuasai oleh pasukan shalahuddin. Merasa tidak berdaya mengepung kota ini, Richard mengirim delegasi perdamaian menghadab shalhuddin. Akhirnya sang Sultan menerima tawaran damai tersebut dan mengakhiri perang salib ke tiga.
“Hari kematian Shalahuddin merupakan musibah bagi islam dan umat islam, sungguh tidak ad duka yang melanda mereka setelah kematian empat kholifah pertama yang melebihi dika atas kematian Saultan Shalahuddin [16]
Dua tahun setelah meninggalnya Shalahuddin juga berkobar Perang Salib atas inisiatif Paus Celesti III. Namun , sesungguhnya peperangan antara pasukan muslim dan pasukan Kristen telah berakhir dengan usainya Perang Salib tiga. Sehingga peperangan berikutnya tidak dikenal.
           
                                   


[9] Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., ( Pemimpin Redaksi ), Ensiklopedi Islam, Jilid 6, hlm. 155.
[10] Prof. Dr. Hj. Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, hlm. 183-184.
[11] Shalahuddin Al-Ayyubi ( 532-589 H/ 1138-1193 M ) adalah pendiri dinasti Ayyubiyah di Mesir. Ia dikenal sebagai panglima muslimin pemenang perang SAlib.  
[12] Azyumardi Azra, ibid.
[13] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Yogyakarta: kota kembamg, 1989, hlm. 285. Prof. K. Sli, Sejarah Islam Pramodern, Jakarta: SRigunting, hlm. 278.
[14] Prof.K. Ali, Sejarah Islam Pramoderm, Ibid.
[15] Prof. K. Ali, Sejarah Islam Pramodern, hlm. 278.
[16] Prof. K. Ali, hlm 285.Pernyataan ini melambangkan betapa Sultan Shhalahuddin Al-ayyubi sebagai pahlawan perang Salib sangat berpengaruh terhadap umat Islam dalam memimpin perang salib.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar